Rabu, 22 Mei 2013

PENGENALAN KARYA ILMIAH



Ciri-Ciri Karya Ilmiah
Pondasi utama penulisan karya ilmiah siswa ialah sikap ilmiah yang harus dimiliki oleh penulisnya sendiri.  Sikap ilmiah itu adalah rasa ingin tahu, kritis, objektif, terbuka,  menghargai karya orang lain, berani mempertahankan kebenaran, serta  berorientasi masa depan.
Sementara hakikat karya tulis ilmiah adalah hasil atau produk manusia (biasanya dalam bentuk tulisan sekalipun tidak hanya itu) atas dasar pengetahuan, sikap dan cara berpikir ilmiah. Menurut Ambo Enre Abdullah (1996) bahwa dalam konsep karya tulis ilmiah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  • Menyajikan fakta objektif secara sistematik dan memakai hukum  teori pada situasi khusus.
  • Penulisan cermat, tepat, benar, dan tulus.
  • Tidak mengejar keuntungan pribadi sehingga tidak berambisi menjadikan pembaca memihak.
  • Sistematik dalam arti proses dan hasilnya direncanakan secara teratur dan terpadu.
  • Tidak menonjolkan perasaan dalam menyajikan pengertian dan hubungan sebab akibat.
  • Menyajikan pandangan dengan pendukung, kecuali yang bersifat hipotesis.
  • Ditulis secara tertulis dan hanya memuat kebenaran dalam arti tidak memancing pertanyaan keraguan.

Sementara itu, secara garis besar dalam konsep pengembangan karya tulis ilmiah terdiri dari dua jenis yaitu:
1.   Karya ilmiah penelitian
Karya ilmiah yang dibuat dengan melakukan penelitian. Misalnya skripsi, disertasi, dan tesis. Selain itu karya ilmiah penelitian terbagi atas beberapa jenis berdasarkan tujuan, pendekatan, bidang ilmu, tempat dan sebagainya.
2.  Karya ilmiah nonpenelitian
Karya ilmiah yang disusun tanpa harus melakukan penelitian layaknya karya ilmih penelitian. Misalnya artikel ilmiah, esai, dan makalah.

Bahasa Ilmiah

Sebuah karya tulis ilmiah harus terorganisir melalui ide, pembentukan kata, kalimat, dan paragraf, menurut kaidah bahasa Indonesia. Adapun prosedurnya sebagai berikut:
1.  Dalam menulis karya tulis ilmiah harus menggunakan ragam bahasa ilmiah atau ragam bahasa baku.
2.  Tata cara penulisan mengikuti aturan Ejaan yang Disempurnakan (EYD).
3. Penggunaan ragam bahasa baku menuntut hadirnya kalimat baku dan efektif serta organisasi ide yang runtut dan logis.

Penyusunan Paragraf
            Menurut Alimin Umar dalam Moh Yamin (1996:10) menyebutkan bahwa sebuah paragraf yang efektif memiliki tiga azas yaitu azas ketunggalan (unity), koherensi, dan adekuasi.
1.   Azas Ketunggalan
Kemampuan siswa mengkonstruksi atau mengemukakan sebuah ide atau gagasan dalam karya tulis ilmiah sebagai paragraf. Artinya, tidak dibenarkan memiliki gagasan pokok kembar atau bahkan ganda dalam sebuah paragraf. Untuk dapat berbuat demikian, harus dapat merumuskan ide pokok yang dikembangkan dalam paragraf ke dalam  kalimat yang pendek, lugas, jelas, dan padat.
2.   Koherensi
Paragraf yang koheren berarti penulis memiliki sejumlah gagasan pendukung yang tertata secara logis dan relevan dengan kalimat pengemdali gagasan. Semua gagasan pendukung yang ditampilkan  harus menunjukkan  adanya hubungan yang saling terkait dalam rangka memberi dukungan terhadap kalimat pengendali gagasan dalam paragraf. Kalimat pengendali biasa juga disebut topic sentence yang terletak pada kalimat  pertama dan atau terakhir dari sebuah paragraf.
3.   Adekuasi
Paragraf yang adekuasi atau adekuat berarti memiliki banyak detail, penjelasan, contoh, bukti, deskripsi,  yang disusun secara koheren. Dengan demikian paragraf tersebut memiliki validitas yang tinggi dilihat dari keberhasilan penulis mempertahankan gagasan pengendaliannya.
 Metode Penulisan
1.      Metode penulisan karya ilmiah non penelitian adalah gambaran tentang cara atau langkah yang dilakukan dalam proses penulisan dan pembentukan karya tulis yang meliputi jenis tulisan, objek tulisan, sumber informasi, prosedur penulisan
2.      Metode penulisan karya ilmiah penelitian adalah gambaran tentang cara penelitian yang dilaksanakan, langkah-langkah yang ditempuh serta karakteristik utamanya dari penelitian yang meliputi:

  • Jenis penelitian
  • Variabel penelitian
  • Teknik pengumpulan data
  • Populasi dan sampel
  • Teknik analisis data



Langkah-langkah Penyusunan Karya Tulis
1.   Non Penelitian
a. Merencanakan penulisan yang terdiri dari membaca eksploratif,  menyusun kerangka,  mencatat dan meringkas.
b. Menulis  yang terdiri dari memahami sasaran pembaca, memahami tujuan, menguasai gaya bahasa.
2.   Penelitian
Untuk menemukan jawaban dari masalah yang telah dirumuskan, maka perlu dirancang suatu cara untuk dapat melakukan penelitian atau biasa disebut model penelitian untuk perumusannya. Adapun model penyusunannya yaitu pendekatan, metode, dan strategi.
Sementara karakteristik penulisan terdiri dari beberapa kategori yaitu historis, deskriptif,  korelasional, komparatif,  eksperimen.

Pengenalan Landasan Teori
1.  Landasan Teori
a.      Pembahasan teori tentang ilmu yang diteliti bersumber dari bacaan.
b.      Penemuan-penemuan yang berhubungan dengan yang diteliti.
c.   Teknik mengutip karya orang lain dengan mengajarkan kutipan langsung dan kutipan tidak langsung
2.  Kerangka Pikir

  1. Intisari dari teori yang dikembangkan yang dapat mendasari perumusan hipotesis.
  2. Teori yang telah dihubungkan dalam rangka memberi jawaban terhadap pendekatan  pemecahan masalah yang menyatakan hubungan antara variabel yang didasarkan pada pembahasan teoritis.

3.      Hipotesis

  1. Tidak semua penelitian membutuhkan hipotesis
  2. Hipotesis merupakan dugaan sementara yang selanjutnya diuji kebenarannya sesuai dengan model analisis yang cocok atau tepat.
  3. Hipotesis penelitian dirumuskan  atas dasar kerangka  pikir yang merupakan jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan.

4.      Penyusunan simpulan, saran, daftar pustaka, dan tabel lampiran
a.      Simpulan
  1. Pernyataan singkat dan tepat yang dijabarkan  dari hasil penelitian dan penalaran  serta merupakan hasil pengujian hipotesis.
  2. Gambaran yang menyeluruh  mengenai penelitian yang telah dilakukan  sehingga pembaca dapat mengetahui temuan-temuan apa yang berhasil diungkapkan.
b.      Saran 
  1. Penjelasan atau penalaran
  2. Dimulai dengan suatu  uraian yang menyatakan ke perumusan
  3. Harus dikaitkan dengan penelitian yang telah dilakukan dengan berdasarkan hasil temuan
  4. Bermanfaat dan dapat dikembangkan
c.       Daftar Pustaka
  1. Penulisan daftar pustaka berkaitan erat dengan cara penulisan nama penulis, tahun penerbitan, judul buku, kota tempat, dan nama penerbit.
  2. Nama penulis ditulis dengan cara membalik yaitu kata terakhir dari nama itu ditulis pertama kemudian dilanjutkan dengan kata pertama, kedua dan seterusnya.
  3. Antara kata pertama dengan kata berikutnya pasca pembalikan  diantarai dengan tanda koma.
  4. Nama penulis dalam daftar pustaka diurutkan  secara alphabetis atau menurut kronologis abjad latin.
d.     Tabel
  1. Tabel diawali dengan tulisan tabel berdasarkan nomor urut dengan angka Arab dan diawali dengan huruf kapital dan tidak diakhiri titik.
  2. Tabel tidak boleh dipenggal
  3. Jarak antara lajur 1,5 spasi
e.      Lampiran
1)      Memuat data penelitian  seperti instrumen, dokumen, perhitungan, dan foto.
2)    Lampiran dipakai untuk menempatkan data atau keterangan untuk melengkapi uraian yang telah disajikan pada bagian awal. (*)

PENDIDIKAN BERBASIS INTERNET



Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi khususnya media internet mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Negara-negara maju dan juga negara berkembang telah menjadikan internet sebagai salah satu fasilitas yang cukup menentukan dalam pengembangan negara tersebut.
Indikator ini menandakan bahwa masyarakat telah sadar akan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam menunjang aktifitas dan pemenuhan kebutuhan. Selain itu, sebagai wadah mempermudah pekerjaan lebih efektif tanpa menyita waktu banyak.
Manfaat teknologi informasi dan komunikasi melalui internet secara mendetail dapat dilihat penggunaannya dalam memajukan pendidikan. Seperti penggunaan pembelajaran jarak jauh berbasis internet. Sampai saat keberadaan internet dinilai sebagai salah satu media yang cukup ampuh dalam melakukan segala kegiatan, baik belajar, bekerja, bermain, membentuk kepribadian serta membawa kita kepada komunitas (maya) sedunia.
Ilmuwan komunikasi massa telah memprediksikan bahwa Teknologi Komunikasi akan menjadikan dunia seolah-olah sebagai global village (perkampungan global). Semakin canggih teknologi komunikasi yang digunakan, maka semakin berkurang “waktu tempuh” yang diperlukan untuk menyampaikan suatu informasi dari dan kebelahan dunia lain. Beliau menegaskan bahwa jenis media komunikasi memegang peranan utama bagi seseorang dalam mengartikan pesan yang disampaikan atau yang diterima.
       Melalui sarana teknologi,masyarakat mendapatkan dampak edukatif sehingga menghasilkan kesadaran optimasi yang dapat mendukung aktifitas, meningkatkan kualitas, kuantitas, serta pendayagunaan Sumber Daya Manusia dibidang teknologi yang sangat memungkinkan masyarakat untuk belajar secara elektronik.
            Menurut Jack Febrian dalam DR Naswil Idris di kutip dari Prof Everett M. Rogers, (2003: 14) mengemukkan bahwa internet mempunyai beberapa kelebihan:
1.      Interactivity; bersifat interaktif antar dua dan lebih individu yang berhubungan.
2.      De-massified: bersifat menggabungkan hubungan pribadi dan media massa secara serentak.
3.      A-synchronous; dalam arti waktu dan inisiatif berkomunikasi ditentukan oleh kita sendiri; bukan orang lain.
4.      Information Sources : dapat memperoleh, menyimpan dan menyampaikan informasi secara tidak terbatas.
Multi fungsi yang dimiliki internet memicu semakin meningkatnya jumlah pelanggannya. Data yang bersumber dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJJI), April 1999 lalu menyebutkan jumlah pelanggan yang ada pada tahun 2000 dari sekitar 210 juta penduduk Indonesia, adalah sebanyak 384.000, sedangkan pengguna internetnya sendiri adalah sebanyak 1.450.000 users.
       Sedangkan pertumbuhan tertinggi yang terjadi pada tahun 1996 hingga 2000, adalah antara 1998 dan 1999. Anehnya, kalau  diperhatikan pada saat ini adalah merupakan waktu krisis yang sengat berat di Indonesia. Pertumbuhan pengguna yang terjadi mengagumkan sebanyak 237.5% dari tahun sebelumnya. 
Sementara hasil survei yang dikeluarkan oleh AC NEILSEN, kebanyakan akses ke internet di Indonesia khususnya langsung dari kantor sebanyak 52%, Warnet 26%, Sekolah/Kampus 19%, rumah saudara 13%, rumah sendiri 11%, umumnya lebih banyak untuk mengakses surat elektronik atau yang dikenal sebagai e-mail.
Kecepatan informasi yang semakin tinggi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat  membawa dunia memasuki era knowledge based society dimana penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menjadi landasan dalam kehidupan sehari-hari, baik dikalangan masyarakat luas ataupun yang dikhususkan pada dunia pendidikan. Teknologi informasi sebagai peluang terjadinya transformasi dalam dunia pendidikan masa depan terutama dengan diperkenalkannya sejumlah konsep semacam e-library, virtual class, digital library dan lain-lain yang tidak lagi bergantung pada batasan-batasan fisik dari sumber daya.
Sarana teknologi informasi dapat memadukan beragam fungsi dan proses dalam penyelenggaraan administrasi pendidikan, terutama yang menyangkut alokasi sumber daya pembelajaran (pengajar, peserta didik, ruang kelas, peralatan dan lain sebagainya) maupun hal-hal penopang lainnya, seperti sistem informasi keuangan, Sumber Daya Manusia, pengadaan dan longistik, dan manajemen dokumen. Penyebaran teknologi internet yang pesat, membuat hampir seluruh pelosok daerah di Indonesia merasakan manfaatnya., terutama penggunaan internet di sekolah-sekolah. Informasi pendidikan dari dinas pendidikan pusat dan propinsi dengan mudah diketahui hanya dengan menggunakan fasilitas dalam jaringan internet.
            Gordon Dryden dan Dr Jeannete Vos (2000 : 91) menilai “Revolusi gabungan Internet-Komputer-World Widw Web telah membentuk generasi baru—lebih dahsyat dibandingkan revolusi  yang dipicu oleh temuan percetakan, radio, mobil, dan televisi.
Kedahsyatan internet membuat Negara Singapura pada tahun 1997 silam menganggarkan khusus  dalam jangka lima tahun hampir 1,5 miliar dolar untuk menerapkan teknologi informasi  interaktif terbaik dunia pada saat itu pada sistem persekolahannya. Pentingnya internet untuk dunia pendidikan sehingga setelah tahun 2002, dari 450.000 pelajar Singapura sudah memiliki satu komputer untuk setiap dua anak. Semua sekolah terhubung ke internet dan para siswa bebas mengakses informasi serta dapat merancang situs web sendiri.
Oleh karena itu tidak bisa lagi disangkal bahwa waktu demi waktu kehidupan manusia termasuk dunia pendidikan  sudah mulai bergantung kepada eksistensi internet. Menurut Hayri (2003: 78) dalam majalah PC Media menilai ketergantungan pada internet sangat dipengaruhi dengan terciptanya aplikasi-aplikasi yang selalu dipermudah, user friendly, halaman web yang selalu inovatif dan informatif, hiburan-hiburan, dan berbagai macam fasilitas yang dapat membuat hidup manusia lebih mudah, internet makin melekat dikehidupan manusia. Dengan demikian, saatnya berkiblat di internet pada percepatan peningkatan mutu pendidikan secara merata dan cepat di seluruh wilayah Indonesia. Harus diakui bahwa internet adalah media yang cukup membantu bagi paradigma pendidikan yang bermutu dan berkualitas di masa kini dan lebih-lebih di depan.(*)

MENANTI BANGKITNYA PENDIDIKAN

(Tinjaun tentang Pendidikan Gratis di Sinjai)
Gebrakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai di bidang pendidikan dengan  pembebasan biaya pendidikan pada tataran Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) mendapat acungan jempol dari masyarakat. Terobosan Pemkab tersebut, diyakini sebagai cikal bakal untuk menanti bangkitnya pendidikan di Kabupaten Sinjai. Perhatian khusus Pemkab di bidang pendidikan, harus didukung sepenuhnya dari semua kalangan masyarakat. Meski pembebasan biaya pendidikan tersebut, baru dilakukan pada level Sekolah Dasar sampai ke jenjang Sekolah Menengah Pertama.  
Perlahan tapi pasti. Mungkin kata tersebut yang cocok untuk pembebasan biaya pendidikan di Sinjai. Sebab mayoritas penduduk Kabupaten Sinjai adalah petani dan nelayan yang masih banyak tertinggal dalam bidang pendidikan. Selain karena masyarakat tidak punya biaya, juga disebabkan adanya dikotomi pemikiran masyarakat yang tidak peduli pada pendidikan.
Apakah pendidikan itu mahal? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang selalu menyelimuti alur pemikiran bagi kalangan masyarakat, lebih khusus kepada golongan masyarakat pinggiran atau minoritas.  Pasalnya, setiap tahun biaya pendidikan rata-rata mengalami peningkatan, mulai pada jenjang Sekolah Dasar sampai ke jenjang tingkat Perguruan Tinggi.
Sebagai masyarakat minoritas, biasanya kurang mengetahui siklus perkembangan pendidikan, termasuk siklus setiap perubahan yang terjadi di negeri ini. Golongan masyarakat seperti itu, biasanya mempunyai analogi pemikiran bahwa pendidikan itu ibarat sebuah barang langka yang terkesan mewah dan susah terbeli, meski sepatutnya wajib dimiliki oleh setiap warga negara di negeri tercinta Indonesia.
Tidak salah bila penyanyi kawakan Iwal Fals dalam lagunya "Mimpi yang Terbeli" begitu menyentuh dengan kondisi realitas di atas, bahwa semuanya bisa terbeli asal uang di kantong cukup dan tak ada soal.
Bila dianulir dalam setiap pemikiran kita,  maka pendidikan itu memang setara dengan sebuah hayalan besar yang selalu diimpikan oleh rakyat untuk memilikinya. Tapi akankah itu bisa terwujud? Kenyataannya, beberapa masyarakat menilai, --jangankan  untuk duduk di bangku Sekolah Dasar hingga nantinya bisa menjadi sarjana bagi masa depan orang tua, bangsa dan negeri tercinta--, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari (primer) pun sangat susah.
Akan tetapi, adanya terobosan Pemerintah Kabupaten Sinjai dalam pembebasan biaya pendidikan pada jenjang SD dan SMP, maka tidak ada alasan lagi bagi masyarakat di Kabupaten Sinjai  untuk tidak menyekolahkan anaknya. Kebijakan Bupati tersebut, oleh kalangan masyarakat dinilai sebagai langkah berani.  Oleh sejumlah pakar pendidikan berargumen bahwa pembebasan biaya pendidikan terkadang menghadapi masalah yang cukup berat. Pasalnya, menyedot anggaran daerah yang tidak sedikit jumlahnya. Bahkan secara jelas H Mohammad Surya, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, meragukan adanya daerah yang berani menggratiskan biaya pendidikan, karena biaya pendidikan sangat besar dan tidak mungkin murah atau gratis. Keraguan tersebut sangat beralasan, sebab sesuai perkiraan Depdiknas, terwujudnya pendidikan yang bermutu membutuhkan anggaran yang banyak dengan satuan biaya per tahun per siswa ialah Rp. 13.4465 untuk SD, Rp. 27.4365 untuk SMP, Rp. 35.52269 untuk SMA dan sekitar 40 juta untuk SMK.
Kendati demikian, penulis menilai bahwa terobosan-terobosan pembebasan biaya pendidikan atau perhatian khusus kepada bidang pendidikan dari Pemerintah Sinjai sudah sejalan dengan mukaddimah Undang-Undang dasar 1945. Secara jelas telah tersurat dan tersirat bahwa salah satu tujuan nasional yang dirumuskan  oleh para pendiri negeri ini adalah ’mencerdaskan kehidupan bangsa’. Makna fundamental yang terkandung dalam pesan tersebut, bahwa kekuatan dan kemajuan sutau bangsa  terletak pada kualitas  sumber daya manusia. Kata kuncinya adalah pendidikan. Sementara pada Pasal 31 UUD 1945 telah mengamanatkan bawa setiap warga negara berhak memperoleh  pendidikan, setiap warga negara wajib memperoleh pendidikan dasar dan pemerintah wajib menyediakan dananya. Masih dalam pasal itu, --pasca amandemen—bahwa pemerintah mengupayakan tersedianya dana pendidikan sekurang-kurangnya 20% di dalam APBN dan APBD.
Dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi  yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya (ayat 1 huruf c dan d). Selain itu, pada pasal 40 ayat 1 dikatakan bahwa Pendanaan pendidikan menjadi tanggungjawab bersama pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Sedangkan alokasi dana pendidikan dijelaskan lagi pada pasal 49 ayat 1  bahwa Dana pendidikan selain gaji pendidik dan pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN dan minimal 20% di APBD.
Realitas di atas adalah gambaran tentang mahalnya pendidikkan. Namun penulis kembali menilai dengan kebijakan Bupati Kabupaten Sinjai dalam pembebasan biaya pendidikan di jenjang SD dan SMP adalah cerminan pemerintah untuk melaksanakan amanat Undang-Undang. Selain itu, sebagai wujud, kemauan, dan komitmen politik dari pemerintah untuk menempatkan pendidikan sebagai kebutuhan sehingga menjadi prioritas  dalam keseluruhan pembangunan dan lebih khusus pada bidang pendidikan dan  terlepas dari konsekuensi mahalnya anggaran untuk pendidikan.
Kenyataan dan fakta-fakta terobosan pemerintah di bidang pendidikan harus didukung sepenuhnya. Mudah-mudahan Kabupaten Sinjai dapat bangkit dari benang kusut pendidikan serta menjadi pilot projek di sejumlah daerah di Indonesia dalam pembebasan pembiayaan pendidikan. Sehingga nantinya, kualitas pendidikan nasional dapat bangkit  kembali.
Sesuai hasil survei sejumlah lembaga internasional, bahwa kualitas pendidikan Indonesia sangat terpuruk atau tertinggal. Berdasarkan laporan Poliitical and Risck Consultan (PERC), kualitas pendidikan Indonesia menempati posisi terakhir dari 12 negara di dunia. Padahal, Indonesia adalah negara  yang lebih cepat memulai  pembangunan dibandingkan dengan negara Vitenam dan Kamboja yang sekarang lebih maju pendidikannya. Permasalahan-permasalahan tersebut membutuhkan ’political will’ yang kuat dari pemerintah.
            Kapan pendidikan di Indonesia bangkit untuk sejajar dengan sejumlah negara di ASEAN dan dunia pada umumnya?  Penulis menilai, pendidikan Indonesia bisa bangkit apabila dijadikan prioritas secara nyata. Bukan justru menempatkan pendidikan diurutan terakhir serta menjadikan pendidikan sebagai alat kepentingan. Sebab bisa saja nantinya pendidikan nasional Indonesia mengalami suatu involusi -meminjam terminologi Clifford Geertz. Ibaratnya, pendidikan Indonesia seperti kapal besar yang mengalami korosi dan mengaram. Makin lama makin tenggelam. Terombang-ambing di tengah ombak, tanpa arah dan tujuan jelas.  Dengan kata lain, manusia-manusia yang bergulat dalam dunia pendidikan bukan makin tumbuh cerdas, berwawasan luas, berdedikasi tinggi, kreatif, jujur dan adil, atau beretos kerja meski fasilitas fisiknya bertambah.  (Kompas, 25/9/2004)
            Realitas dalam terminologi Clifford Geertz tersebut tidak boleh kita diamkan begitu saja, apatahlagi kita terninabobokan dalam persaingan kompetisi. Pemerintah sebagai penentu kebijakan, harus menggalang secepatnya sebuah kekuatan baru yang maha pembaharu yang bisa memberi solusi untuk memperbaiki sistem pendidikan serta menjadikan pendidikan yang utama dan pertama dalam mengangkat kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.
            Seperti yang pernah diberitakan dalam sebuah media massa nasional menyebutkan, sejumlah negara-negara tetangga gencar menggenjot pendidikan bagi kemaslahatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Seperti  mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahamatir Mohammad pada tahun terakhir masa pemerintahannya menjadikan pendidikan sebagai program terpenting. Begitupun dengan negara ASEAN lainnya seperti  Thailand melalui perdana menterinya, Thaksin Shinawata melalui lima menterinya berjuang sungguh-sungguh membenahi mutu sekolah dengan julukan negeri gajah putih itu. Tidak terkecuali, negara sekecil Singapura tak mau ketinggalan dalam bidang pendidikan.  Negara yang menjadi pusat perdagangan dan perekonomian  di Asia Tenggara itu membuat terobosan yang luar biasa dengan membuat program menciptakan masyarakat ilmu pengetahuan dan pendidikan seumur hidup.  Secara totalitas jumlah siswa  yang mendaftar masuk ke SMA dan perguruan tinggi di Thailand, Filipina, Singapura, dan Malaysia berada di atas pencapaian Indonesia.
            Fakta-fakta tersebut janganlah diabaikan begitu saja atau kita terlena dalam keterpurukan pendidikan di Indonesia.  Semua masyarakat dan lebih-lebih pemerintah (eksekutif) serta semua wakil rakyat yang duduk di kursi legislatif, --entah di pusat atau di daerah--, harus bersama-sama membenahi peningkatan mutu pendidikan.
            Harus diakui bahwa pendidikan adalah mata rantai utama dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia.  Sehingga apapun adanya, pendidikan harus jadi prioritas di negeri tercinta Indonesia.  Pasalnya. Ketika ada kebijakan di bidang pendidikan yang kurang bijak dan tidak terlalu menyentuh secara riil akan sebuah pendidikan yang sesungguhnya maka kemungkinan besar akan mengakibatkan degradasi secara serius terhadap output pendidikan. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa upaya mempertajam kualitas SDM menjadi terhambat, dan pengaruhnya akan terus merembet ke sektor-sektor lain.
            Contoh kecil seperti kasus penggelontoran atau pengusiran secara paksa tenaga kerja Indonesia (TKI) sekarang ini  dari negeri jiran Malaysia adalah salah satu bukti nyata bahwa Indonesia tertinggal jauh dalam hal kualitas pendidikan. Jika para TKI sebelum ke luar negeri mempunyai bekal pendidikan atau SDM yang matang tentu akan menempuh cara bekerja yang legal dan bukannya secara ilegal. Dengan kata lain para TKI tidak dibodoh-bodohi oleh para calo TKI dengan janji-janji palsu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, padahal janji pekerjaan hanyalah kamuflase belaka. Karenanya, sudah sepantasnya jika pemerintah mesti memperkuat komitmennya terhadap persoalan pendidikan di negeri ini.
            Sekadar diketahui, mengurai benang kusut pendidikan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan terapi  khusus  dalam bentuk revolusi dan bukan sekadar reformasi.  Melihat kenyataan tersebut memang  perlu adanya sebuah keberanian termasuk tekad baik pemerintah seperti Pemkab Sinjai dalam perbaikan kualitas pendidikan. Harapan besar akan selalu dinanti masyarakat dari pemerintah untuk terus komitmen dan serius terhadap keputusan-keputusan pendidikan (apakah termasuk keputusan politik pendidikan) merupakan keputusan yang betul-betul pro rakyat dan menyentuh semua kalangan. Dengan niat yang suci, Sinjai akan menjadi daerah yang berpendidikan. Kita tunggu!   (*/Penulis: Takdir Kahar, S.Pd.)